Gunungan Sampah di Belakang Rumah Dinas Bupati Lampura, Ironi Pelayanan Publik

Gunungan Sampah di Belakang Rumah Dinas Bupati Lampura, Ironi Pelayanan Publik

Citra hukum
Minggu, 24 Mei 2026


Citrahukum.com, Lampung Utara – Pemandangan tak sedap terlihat di belakang rumah dinas Bupati Lampung Utara. Sebuah bak sampah tampak meluap, sementara tumpukan plastik dan limbah rumah tangga berserakan di pinggir jalan. Minggu (24/5/2026).

Foto yang beredar menunjukkan sampah bahkan meluber ke badan jalan dan mengotori area sekitar. Ironisnya, lokasi ini berada tepat di belakang rumah dinas orang nomor satu di Lampung Utara.

Di titik lain yang tak jauh dari sana, area di depan bangunan berplang "PD Lampura Niaga" juga tampak dipenuhi sampah dan genangan air kotor. Rumput liar tumbuh subur, menambah kesan tak terurus.

Kondisi ini jelas kontras dengan citra kota yang seharusnya bersih dan tertata, apalagi berada di kawasan yang dekat dengan pusat pemerintahan daerah.

Gunungan sampah di belakang rumah dinas bupati bukan sekadar soal kebersihan. Ini soal rasa memiliki dan prioritas.

Jika area yang setiap hari dilewati dan dilihat oleh jajaran pemda saja bisa dibiarkan meluap, maka sulit menyalahkan warga yang merasa pengelolaan sampah di kampung mereka juga diabaikan.

Masalah sampah memang kompleks. Butuh anggaran, armada, jadwal angkut, dan kesadaran warga. Tapi masalah utama seringnya ada di satu hal: konsistensi pengawasan.

Lokasi di belakang rumah dinas seharusnya jadi titik nol kebersihan. Karena di situlah standar paling tinggi harus diterapkan. Kalau standarnya saja rendah, jangan harap standar di kelurahan dan desa bisa naik.

Kondisi ini seharusnya jadi tamparan halus buat Dinas Lingkungan Hidup Lampung Utara. Jangan tunggu viral baru bergerak. Kebersihan itu bukan program musiman, tapi cerminan kinerja pelayanan dasar yang paling nyata dirasakan warga.

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Pemkab Lampung Utara terkait kondisi tersebut. Publik kini menunggu apakah tumpukan sampah ini akan segera diangkut dan area dibersihkan, atau kembali dibiarkan menjadi pemandangan rutin.

Karena jujur saja, sulit mengajak warga peduli lingkungan kalau pemerintah sendiri belum memberi contoh di halaman belakangnya sendiri.

(Samsudin)