MAHASISWA UNIVERSITAS BILLFATH BERMORAL MELALUI TAAT DAN TAWADHU’ PADA DOSEN

MAHASISWA UNIVERSITAS BILLFATH BERMORAL MELALUI TAAT DAN TAWADHU’ PADA DOSEN

Citra hukum
Senin, 24 November 2025



Oleh: Ali Fuad Hasyim, S.H., M.H
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Universitas Billfath

Citrahukum.com, Setiap peringatan Hari Guru merupakan momentum istimewa bagi seluruh civitas akademika Universitas Billfath untuk merenungkan kembali makna pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan bukan sekadar kegiatan transfer ilmu, tetapi perjalanan pembentukan karakter, akhlak, dan keluhuran budi. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, nilai moral mahasiswa menjadi pilar utama yang harus terus dijaga dan diperkuat.

Salah satu fondasi moral itu adalah ketaatan dan sikap tawadhu’ kepada dosen, yang sejak dulu menjadi ciri khas luhur para penuntut ilmu dalam tradisi keilmuan Islam maupun akademik modern.

Di Universitas Billfath, dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing jalan hidup akademik mahasiswa. Melalui arahan, nasihat, dan keteladanan mereka, mahasiswa dibimbing menuju kedewasaan berpikir dan kematangan moral. Karena itulah, hubungan antara mahasiswa dan dosen harus dibangun di atas pondasi saling menghormati.

Ketaatan dan tawadhu’ bukanlah sikap mengurangi kebebasan berpikir, tetapi justru bagian dari adab ilmiah yang mengantar mahasiswa pada pemahaman yang lebih dalam, lebih bijak, dan lebih berkualitas.

Mahasiswa Universitas Billfath dikenal sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap pendidikan. Ketaatan kepada dosen merupakan salah satu bentuk kesungguhan itu.

Ketaatan di sini mencakup:

1. Disiplin hadir dan aktif mengikuti perkuliahan

2. Patuh pada aturan akademik dan etika ilmiah

3. Sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas dan penelitian

4. Mengikuti arahan dosen dengan penuh tanggung jawab


Melalui ketaatan, mahasiswa belajar mengelola diri, menghargai waktu, serta membangun etos kerja yang akan menjadi bekal dalam dunia profesional.

Sikap tawadhu’ merupakan karakter luhur yang sangat ditekankan di lingkungan Universitas Billfath. Tawadhu’ bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menunjukkan kerendahan hati dalam menerima ilmu, nasihat, dan kritik.

Mahasiswa yang tawadhu’ akan:

1. Mendengarkan dosen dengan penuh hormat

2. Menjaga tutur kata dan sikap dalam diskusi akademik

3. Tidak merasa paling benar, sekalipun memiliki banyak referensi

4. Menghargai pengalaman dan keluasan wawasan dosen


Sikap tawadhu’ inilah yang menjadikan ilmu lebih mudah meresap dan memberi keberkahan.

Di tengah budaya digital yang cenderung instan dan bebas, sikap hormat kepada dosen kadang tergerus oleh gaya komunikasi modern. Untuk itu, mahasiswa Universitas Billfath harus menjadi teladan dalam menjaga etika baik di ruang kelas, ruang publik, maupun media sosial.

Kecanggihan teknologi tidak boleh menghilangkan etika komunikasi. Justru karakter, moral, dan adab menjadi pembeda yang membuat seseorang dihormati.

Hari Guru adalah pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari sejauh mana mahasiswa mampu menampilkan akhlak mulia dalam keseharian. Ketaatan dan tawadhu’ kepada dosen bukanlah budaya lama yang usang, melainkan nilai agung yang akan selalu relevan sepanjang zaman.

Semoga mahasiswa Universitas Billfath senantiasa menjadi generasi yang berilmu, beradab, dan bermartabat serta terus menjunjung tinggi hormat kepada para dosen yang telah mengabdikan dirinya demi masa depan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional.
Semoga para pendidik selalu diberikan kekuatan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas mulianya.