Citrahukum.com, Tolitoli — Kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul “Pesta Babi” yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Tolitoli menuai beragam tanggapan dari kalangan mahasiswa. Menyikapi hal tersebut, PMII Komisariat STAI Al-Munawwarah Tolitoli mengajak mahasiswa untuk tetap bersikap kritis dan tidak mudah tergiring opini.
Kegiatan nobar tersebut berlangsung di Tolitoli (Sulawesi Tengah) dan menjadi ruang diskusi di kalangan mahasiswa terkait isi serta pesan yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut.
Sekretaris PMII Komisariat STAI Al-Munawwarah Tolitoli, Muhammad Salsaputra, menegaskan bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu memahami setiap informasi secara objektif dan tidak menelan mentah-mentah isi tayangan.
“Mahasiswa harus mampu membedakan antara realitas dan konstruksi opini. Jangan sampai emosi lebih dominan daripada nalar kritis. Setiap informasi perlu diuji dan dikaji secara mendalam,” ujarnya.
Menurutnya, film dokumenter pada dasarnya merupakan karya yang dibangun dari sudut pandang tertentu, sehingga berpotensi membentuk opini publik sesuai perspektif pembuatnya. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk melakukan analisis terhadap fakta, konteks, serta tujuan dari film tersebut.
PMII juga menekankan bahwa sikap kritis dan objektif sangat diperlukan agar mahasiswa tidak terjebak pada satu sudut pandang semata, melainkan mampu melihat suatu persoalan secara komprehensif.
Dengan adanya imbauan ini, PMII berharap mahasiswa di Tolitoli tetap menjaga independensi berpikir serta menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.
(Red)
