Citrahukum.com, Senin pagi, 22 Juni 2026. Matahari belum tinggi, tapi teras SDN 05 kota alam Kecamatan kota bumi selatan sudah hidup. Cat dindingnya hijau cerah berpadu hijau di bagian bawah, seperti menyambut siapa pun yang datang.
Di atas meja yang ditutup taplak merah yg cerah, selembar formulir pendaftaran tergelar. Seorang ibu yg memakai baju belang wrna warni ke merah berwarna merah ke hitaman menunduk, tangannya serius menggoreskan pulpen. Di sebelahnya, menempel Di meja, seorang bujang kecil berbaju kaos hitam ikut menimbrung. duduk d samping ibu menugu dan ikut dalam pendaftaran bersama orang tua duduk d samping dan memperhatikan, seolah ikut tanda tangan.
Di hadapan mereka, tiga guru perempuan dengan seragam khaki tersenyum. Satu berjilbab coklat dan satu guru berpakai baju putih dan bersama kepala sekolah dan serta guru lain yg sempat hadir berjilbab dengan , telaten menjelaskan. Yang berjilbab coklatan keemasan tertawa kecil melihat tingkah si anak. Satu lagi di ujung meja, ikut sumringah.
Nggak ada ketegangan. Yang ada cuma obrolan pelan, senyum, dan harapan.
Ini bukan sekadar adegan mengisi formulir PPDB. Ini adalah hari pertama seorang anak secara resmi memulai "petualangan barunya".
Hari itu, SDN Kota alam 05 membuka pintu untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Dan pintu itu langsung disambut 1 calon siswa calon siswa tercatat di hari pertama. Angka yang bagi Bu Dian kepsek sekolah bukan cuma statistik.
“Setiap anak yang datang, itu amanah. Apalagi pas lihat anaknya ikut duduk d samping orang tua ya kayak di foto itu. Rasanya... ini tugas kami bukan cuma ngajar, tapi ngejaga mimpi mereka,” tutur ibu Dian kepsek sekolah tersebut.
Perhatikan lagi foto itu. Si ibu rela membungkuk di meja pendek. Sepatunya dilepas rapi di bawah. Anaknya nggak takut, malah nyaman bertopang dagu di meja pendaftaran. Para guru nggak duduk kaku di balik meja, tapi ikut mencondongkan badan, menyapa, membuat percakapan.
Teras sekolah dengan cat -hijau itu hari ini berubah fungsi. Bukan lagi sekadar lorong. Ia jadi ruang transisi, dari rumah ke sekolah, dari anak rumahan menjadi calon murid.
“Tahun ini kami memang mau beda. Pendaftaran harus jadi kenangan pertama yang manis. Makanya kami gelar di teras, terbuka, biar nggak ada sekat antara guru dan wali murid,” tambah Bu Dian.
Satu nama yang masuk hari pertama itu kini jadi angkatan pembuka. Mungkin salah satunya si bujang kecil berbaju hitam tadi. Mungkin kelak dia akan ingat, pertama kali "sekolah" adalah saat ia iseng coret-coret di formulir pendaftaran, ditemani tawa bu guru.
Pendaftaran masih dibuka sampai Sabtu, 27 Juni 2026. Syaratnya pun dibuat tak memberatkan, KK, Akta, KTP orang tua, ijazah TK, dan pas foto. “Biar energi orang tua fokus buat nyiapin mental anak, bukan pusing urus berkas,” seloroh Bu Dian.
Tanggal 13 Juli 2026 nanti, teras ini akan lebih ramai. Satu anak itu, plus teman-teman barunya, akan masuk kelas dengan seragam merah-putih. Memulai hari pertama mereka yang sesungguhnya.
Tapi untuk hari ini, ceritanya cukup satu, di teras hijau itu, sebuah pulpen kecil sudah ikut menandatangani masa depan.
